Jumat, 12 Desember 2014

Taman Waruga Sawangan

waruga.jpg
CAGAR BUDAYA KHAS MINAHASA UTARA
Kalau di Bali ada sarkofag, di Jawa Timur ada padusa, di Sumatera Utara ada tomok, di pedalaman Kalimantan ada sanding, maka di Minahasa ada waruga. Di daerah lain pasti ada lagi dengan nama yang lain lagi. Yang beragam bukan hanya namanya tetapi juga bahan, bentuk maupun hiasannya, namun maksud sama juga, yakni untuk tempat penyimpanan mayat.
Asal kata waruga kurang begitu jelas, ada yang mengatakan dari kata maruga (bahasa Tombulu, Tondana, Tonsea) yang artinya direbus, pendapat lain dari kata meruga (kata Minahasa kuno) yang berarti menjadi lembek atau cair. Yang seperti direbus atau menjadi lembek itu tentunya daging mayat yang disimpan, serupa sarkofagus yang berarti pemangsa daging. Yang jelas waruga adalah salah satu jenis peninggalan purabakala yang berfungsi sebagai peti mayat. Bahannya batu, terdiri atas dua bagian yang berfungsi sebagai wadah dan tutup, bentuknya menyerupai rumah dengan atapnya, bersumber dari budaya megalitik (batu besar) pada masa prasejarah.
Selama ini penemuan waruga hanya di Minahasa bagian utara, di bagian selatan rupanya digunakan sistem pengubuaran sekunder yang lain, yakni dengan tempayan atau tanpa wadah yang permanen.
Waruga sebagai sarana pemakaman keluarga biasanya ditaruh di pekarangan atau di kolong rumah. Tidak semua orang Minahasa Utara dahulu dikuburkan di waruga, rupanya hanya orang-orang yang mempunyai posisi dan fungsi penting dalam masyarakat sebab itu jumlah waruga juga tidak terlalu banyak. Yang telah berhasil dicacah mendekati jumlah 2.000 buah terdapat hamper diseluruh daerah Minahasa bagian utara, termasuk Manado –belum termasuk yang telah dijadikan koleksi museum atau dibawa ke luar Minahasa dan juga ke luar negeri.
Sejarah
Waruga mulai menarik perhatian orang, terutama para peneliti sejak C.T. Bertling menulis artikel De Minahasche Waruga en Hockerbesttung dalam majalah Nederlansche Indie Oud en Niew, No. XVI tahun 1931.
Penelirian tentang waruga memang belum tuntas, namun beberapa hal telah dapat kita ketahui. Kasih saying dan kesetiaan kepada nenek moyang (dotu) di daerah ini antara lain dinyatakan sengan perawatan jasadnya dalam peti batu, warugu. Kebiasaan serupa ini terdapat diberbagai daerah di Indonesia sebagai salah astu bentuk tradisi megalitik  pada msa prsejarah akhir, di Minahasa tentunya sudah ada jauh sebelum berkembangnya kebudayaan yang sekarang.
Tradisi waruga berkelanjutan hingga kira-kira pertengahan abad ke-19. Kebetulan bahwa diantara waruga yang pada bagian atap/tutup bayanyak hiasannya itu didapatkan beberapa angka tahun seperti: 1769, 1839, 1850.
Hiasan
Bagian tutup waruga bentuknya seperti atap rumah yang menjulang tinggi itu banyak dipahatkan berbagai ragam hiasan berupa orang, binatang, benda alam, tumbuh-tumbuhan, ragam hiasa geometris dan lain-lain.
Ragam hias orang ada pria, wanita dengan berbagai sikap, ada yang berdiri dengan gagah, duduk, ngangkakng, bahkan ada yang sedang melahirkan anak. Lambing matahari rupanya mendapat tempat khusus. Hiasan salur-salur berpilin, bunga dalam berbagai bentuk. Hiasan tumpal, tali berpintal, untaian permata, rumbai-rumbai dan lain-lain. Hiasan-hiasan itu tampaknya merupakan lambing-lambang, gambaran situasi sorgawi atau gambaran situasi si mati sendiri, misalnya ada yang meninggal waktu melahirkan.
Upaya Pelestarian dan Sarana Wisata Budaya
Waruga sebagai cagar budaya yang unik dan khas Minahasa ini perlu dilestarikan dengan pedoman perundang-undangan cagar budaya yang berlaku. Dalam upaya penyelamatan, seorang Hukum Tua (Kepala Desa) Sawangan pernah mengumpulkan waruga yang tersebar di wilayahnya ditaruh dipinggir desa. Dipandang dari satu segi, khusunya penelitian, pemindahan seperti ini merugikan, tapi dari segi upaya penyelamantan sangat baik.
Setelah dilakukan penelitian oleh para pakar purbakala, sejak tahun 1976 dilakukan penataan dan penamanan. Hasilnya pada tahun 1978 telah menjadi suatu Taman Waruga Sawangan yang unik dan menarik. Disamping diatur secara berbaris, diselingi tanaman hias dan jalan setapak serta pagar keliling, terdapat juga ruang koleksi, ruang informasi sekaligus tempat jaga. Jalan-jalan pun kemudian ditata sehingga memudahkan bagi para pengunjung. Tinggallah pemeliharaaan selanjutnya yang terus diupayakan dan ditingkatkan. Siapa yang belum mengunjungi? Silakan.

0 komentar:

Posting Komentar