Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Desember 2014

Yang Alami Yang Terindah

Ibu tidak berselera makan. Di usianya yang sepuh, ia lebih suka berdiam diri di ranjang sepanjang hari. Dokter keluarga kami merujuknya ke psikiater. Ibu lalu diberi kapsul racikan yang katanya dapat mengembalikan kegembiraan Ibu dan membangkitkan napsu makannya.

Saat pertama kali kapsul diberikan, Ibu sedang dirawat di rumah sakit dan diinfus. Satu jam setelah obat itu masuk dalam tubuh, perilaku Ibu mulai berubah. Beliau sangat aktif, selalu ingin turun dari ranjang dan mengelilingi rumah sakit. Kami kewalahan mengikuti keinginan Ibu, sama sekali tidak mau beristirahat. 

Lima Kotoran Batin


Setiap hari di dalam batin kita ada kotoran, entah dalam skala besar atau kecil, banyak atau sedikit. Kotoran ini tak perlu dibuang, karena upaya untuk membuang adalah bentuk lain dari kotoran batin. Yang perlu kita lakukan adalah secara sadar mengamati terus gerak batin kita dari saat ke saat.

Jiwaku Berkhotbah Kepadaku

Sebelum jiwaku berkhotbah kepadaku, Kasih berada di dalam hatiku seperti seutas benang yang diikatkan pada dua buah pasak. Tetapi sekarang Kasih telah menjadi sebuah lingkaran keemasan yang tiada akhir. Ia mengelilingi setiap makhluk dan perlahan-lahan membesar untuk merangkul semua yang akan ada.

Jiwaku menasihatiku dan mengajariku untuk merasakan keindahan tersembunyi dari kulit, bentuk, serta warna. Ia mengajariku untuk merenungkan yang disebut orang –buruk– sehingga kemenawanannya yang sejati muncul.
Sebelum jiwaku memberikan nasihat kepadaku, kupandang Keindahan seperti obor yang gemetar di antara pilar-pilar asap. Sekarang, setelah asapnya lenyap, yang kulihat hanyalah api.

Kodrat dan Rahmat

Perhatikanlah dengan saksama gerak-gerik kodrat dan rahmat, sebab yang satu berlawanan dengan yang lain secara hampir tak kentara, bahkan orang yang mendapat terang batin pun hampir tak dapat merasakan perbedaan itu.

Kodrat itu cerdik dan menarik, ia menjerat dan menipu banyak orang, serta senantiasa bertujuan untuk kepentingan diri sendiri.
Tetapi rahmat bergerak bersahaja, menghindari segala macam kejahatan, ia tidak menggunakan alasan-alasan penuh akal, dan menjalankan segalanya hanya untuk Allah yang akhirnya menjadi tempat istirahatnya.

Memotong Rambut

Tahun 1945, Sadhu Vaswani mengunjungi Jamshedpur untuk memenuhi undangan memberikan kuliah tentang kebudayaan Gita dan India. Banyak orang berkumpul setiap malam untuk mendengarkan pembicaraannya. Beberapa di antara mereka menemui Sadhu Vaswani dan berbicara tentang aspirasi-aspirasi spiritual mereka.

Ada seorang pemuda dari keluarga Parsi yang baik dan memiliki posisi tinggi di Tata Iron & Steel Company. Kedua matanya bercahaya, wajahnya tampan, tutur katanya lembut dan menyiratkan vitalitas seorang pemuda. Secara teratur ia menghadiri pertemuan-pertemuan dan selalu duduk di barisan paling depan.

Jalan Kematian adalah Jalan Kehidupan

Orang dianggap mati secara klinis ketika otak sudah tidak bisa bekerja lagi. Sebaliknya, ketika otak masih aktif bekerja, meskipun orang tidak bernapas lagi, orang tersebut dianggap masih hidup. Kematian dan kehidupan sangat tergantung pada mati hidupnya otak.

Mengamati Diri


Tidak ada orang yang dapat mengajarkan cara atau metode mengamati diri Anda. Tidak ada seorang pun dapat membantu Anda. Ketika Anda menemukan suatu teknik untuk mengamati diri Anda, berarti Anda sudah diprogram lagi. Tetapi, mengamati diri – meneliti diri – sangat penting.

Mengamati diri tidak sama dengan “sibuk dengan diri sendiri.” Mengamati diri berarti meneliti segala sesuatu yang terjadi di dalam diri Anda dan sekeliling Anda seluas mungkin. Amatilah seakan-akan hal itu terjadi pada orang lain. Anda tidak melibatkan diri dengan kejadian yang terjadi pada diri Anda. Pandanglah kejadian-kejadian itu seakan-akan Anda tidak punya hubungan dengan kejadian-kejadian itu.

Memandang Realitas Tanpa Otoritas


Ketika ajaran, iman, atau agama yang dianut dipertanyakan kebenarannya, orang terguncang hidupnya atau cepat marah. Iman atau agama telah membuat ketergantungan psikologis. Ketergantungan ini bisa sedemikian membutakan, sehingga orang tidak lagi dapat melihat realitas apa adanya.

Kalau ketergantungan psikologis tersebut dipatahkan, orang akan menemukan ketidaktenangan, kegelisahan, dan ketidakpastian. Yang tersisa hanyalah kesepian dan kekosongan yang luar biasa. Bukankah inilah realitas hidup kita yang sesungguhnya, yang cenderung kita hindari, dan tertutupi oleh ajaran-ajaran suci?

Pencitraan Menghalangi Hubungan


Dalam hidup, kita berhubungan dengan pribadi-pribadi. Salah satu faktor yang sangat berperan membentuk karakter hubungan-hubungan itu adalah citra atau gambaran kita tentang diri kita dan tentang orang lain.

Kita memiliki citra tertentu tentang diri kita dan tentang orang lain. Begitu pula sebaliknya. Orang-orang lain memiliki citra tentang diri mereka sendiri dan tentang diri kita. Lalu, kita saling berinteraksi dengan berpijak pada sudut pencitraan masing-masing. Apakah di sini ada hubungan pribadi? Bukankah yang ada ialah hubungan antarcitra yang justru menghalangi kontak pribadi?

Kekosongan

Kebanyakan dari kita barangkali jarang mengalami kekosongan, karena kita cenderung menghindarinya, melarikan diri darinya, saat kekosongan muncul. Kita menyibukkan diri dalam dunia kerja, mencari kekayaan, berelasi dengan orang, menonton televisi, masuk ke dunia maya, membaca banyak buku, mengumpulkan pengetahuan, mencari kekuasaan, memupuk kepercayaan, dan sebagainya.

Kita tidak sungguh-sungguh menyelidiki apa itu kekosongan. Kita menilai kekosongan sebagai sesuatu yang "buruk", "menyakitkan", "menakutkan", dan "mengerikan". Kalau batin kita menamai dan menilai, di situ sudah ada perlawanan atau pelarian diri. Bisakah batin menghadapi kekosongan tanpa memberinya nama, tanpa menilai, tanpa melawan, tanpa melarikan diri?

Mencari Socrates

Ketenaran Socrates melampaui Athena, sampai ke daerah-daerah yang jauh. Banyak orang datang untuk mendapatkan darshana (wawasan) dari hamba Allah yang selalu menjauhkan diri dari kekuasaan dan kepentingan diri sendiri itu.

Suatu hari, dari tempat yang jauh datang seorang pria ke rumah Socrates. Socrates sendiri yang membuka pintu. "Selamat datang, teman," sapa Socrates kepada tamu asing.

"Perbukitan dan lembah telah aku lintasi untuk mendapatkan darshana Socrates," kata pria itu. "Dapatkah engkau memberitahu di manakah dia?"

"Engkau telah datang pada orang yang salah," sahut Socrates. "Percayalah padaku, Saudaraku, aku telah mencari Socrates selama bertahun-tahun, tetapi aku belum mampu menemukan dirinya."

"Engkau juga mencari Socrates dan selama bertahun-tahun belum bertemu juga. Apakah engkau warga di daerah ini?"

"Aku dilahirkan di sini," jawab Socrates. "Dan aku telah tinggal di sini sepanjang hidupku sejak lahir. Meskipun aku sudah berusaha keras mencari Socrates siang dan malam, tetapi tetap saja Socrates menghindar.

"Kalau begitu, aku tidak punya harapan untuk bertemu dengannya," kata pria itu. "Sebaiknya aku pulang ke negeriku."

Sesungguhnya, hal paling sulit untuk diketahui adalah diri sendiri - pribadi yang sejati dan nyata. 

Penyebab Kejahatan di Dunia

Seorang perempuan tua meninggal dan dibawa ke Takhta Hakim oleh para malaikat. Ketika Hakim memeriksa catatan, hampir tak ditemukan satu tindakan cinta kasih pun, kecuali perempuan tua itu pernah memberikan sebuah lobak kepada pengemis yang kelaparan.

Namun, kekuatan satu tindakan cinta begitu besar, sehingga diputuskan bahwa perempuan tua itu akan diangkat ke surga dengan kekuatan lobak tersebut. Saat ia  menyentuh lobak, lobak naik seperti ditarik penggerak tak kelihatan.

Datang seorang pengemis yang memegang tepi pakaian perempuan tua itu, ikut terangkat, lalu orang ketiga berpegang pada kaki pengemis menjadi ikut terangkat juga. Dengan cepat sudah ada deretan panjang orang-orang yang ikut terangkat ke surga karena lobak tersebut.

Perempuan tua itu tak merasakan beratnya beban, karena pandangannya tertuju ke atas. Mendekati pintu gerbang surga, ia mengarahkan pandangannya ke bawah untuk terakhir kali dan melihat deretan orang di bawahnya.

Ia marah dan mengibaskan tangannya sambil berteriak, "Pergi, pergi semua. Lobak ini kepunyaanku!" Karena mengibaskan tangannya, ia melepaskan pegangan ke lobak sesaat saja, membuatnya jatuh ke bawah dengan seluruh rombongan. 

Hanya ada satu penyebab dari setiap kejahatan di dunia, "Ini kepunyaanku."
 

Diri sebagai Pusat Konflik


Konflik selalu terjadi antara dua hal yang saling berlawanan. Aku merasa benar, dan aku menganggap engkau salah. Lalu aku memaksakan apa yang kuanggap benar. Demikian sebaliknya. Aku dan engkau lalu terlibat konflik, karena sama-sama menganggap diri paling benar. Segala sesuatu yang menimbulkan konflik, betapa pun orang merasa paling benar; sama-sama jahat, sama-sama merusak.

Kebenaran yang sesungguhnya atau Kebaikan Tertinggi tidak mempunyai lawan atau kebalikan. Anda bisa berkonflik dengan Sang Kebaikan atau Tuhan, tetapi Sang Kebaikan tidak mungkin berkonflik dengan Anda. Anda bisa membenci Tuhan, tetapi Tuhan yang sesungguhnya tidak mungkin membenci Anda. Bagaimana mungkin di dalam Sang Kebaikan ada kejahatan, di dalam Sang Kebenaran ada kepalsuan, di dalam Cinta ada kebencian?

Ketika Semua Keinginan Saya Terpenuhi



Di dalam tradisi saya, para biksu tidak diperkenankan menerima, memiliki, atau memegang uang, apa pun macamnya. Kami ini begitu miskinnya sampai-sampai mengacaukan statistik pemerintah. Kami hidup sederhana dengan sukarela, hidup dari pemberian bersahaja para penyantun awam. Betapa pun, tak jarang kami mendapat tawaran yang istimewa.
 
Saya telah membantu seorang pria Thai yang punya masalah pribadi. Sebagai ungkapan terima kasih, ia ingin memberikan saya 500 baht. Adalah lazim menyebutkan jumlah saat mengajukan penawaran untuk menghindari kesalahpahaman. Karena tidak bisa langsung memutuskan apa yang saya inginkan dan dia terburu-buru, kami sepakat saya akan memberitahu keputusan saya pada kedatangannya di saat lain. 
 

Profesor Itu Tenggelam

Seorang profesor sedang menyeberangi Sungai Jamuna dengan perahu. Dia bertanya kepada tukang perahu, “Apakah Anda pernah belajar aritmatika?”

“Belum pernah, Pak,” jawab tukang perahu.

“Kalau begitu, Anda kehilangan sepertiga dari hidup Anda. Lalu, apakah Anda pernah belajar membaca dan menulis?” tanya profesor lagi.

“Tidak pernah, Pak,” sahut tukang perahu.

“Kalau begitu, Anda telah kehilangan dua pertiga dari hidup Anda.”

Tiba-tiba terjadi badai dahsyat. Perahu terguncang dihantam badai gelombang air sungai yang mengganas. Dalam detik-detik yang mengerikan itu, tukang perahu bertanya kepada profesor, “Apakah Anda pernah belajar berenang?”

“Belum pernah,” jawab profesor.

“Kalau begitu, saya sangat khawatir Anda akan kehilangan seluruh hidup Anda, karena ….”

Belum sempat tukang perahu menyelesaikan ucapannya, perahu terbalik dan ditelan gelombang sangat ganas. Tukang perahu berenang ke pantai dengan selamat, namun profesor itu tenggelam bersama perahu.
Semua pengetahuan bermanfaat. Tetapi, pengetahuan lain yang juga sangat penting adalah pengetahuan tentang cara menyeberangi Pantai Lain. Dunia ini dikenal sebagai lautan kehidupan lahiriah (sansara sagara). Berbahagialah orang-orang yang telah mempelajari keterampilan menyeberang untuk bisa mencapai Sisi Lain lautan itu.

Menyingkap Tirai Penderitaan

Hidup ini penuh dengan penderitaan, maka orang lalu mencari kebahagiaan. Kebahagiaan yang dicari umumnya tak jauh dari kebahagiaan tertentu: bahagia karena berkecukupan, bahagia karena memiliki pasangan hidup atau keluarga yang baik, bahagia karena sembuh dari sakit, dan sebagainya.  

Apa yang akan terjadi kalau tiba-tiba orang jatuh miskin, ditinggal mati atau ditinggal pergi yang dicintai, jatuh sakit, dan seterusnya? Bukankah orang akan terguncang batinnya, sedih, dan penderitaan muncul kembali?

Sumur Tua yang Setia

Seorang anak muda menghabiskan waktu satu bulan setiap musim panas untuk berlibur bersama orangtuanya di rumah tua seorang petani. Rumah itu sudah berusia sekitar 150 tahun ketika dibeli oleh keluarganya dan belum pernah dipugar.

Sumber persediaan air selama bertahun-tahun berasal dari sumur tua yang terletak persis di luar pintu depan rumah. Sumur ini tidak pernah kering, bahkan di musim kemarau yang paling kering, sumur tua itu tetap setia menghasilkan air yang bening dan dingin.

Membuang Semua Penilaian

Tidak ada satu pun yang lebih menggembirakan seperti penyadaran. Akankah Anda cenderung memilih tetap hidup dalam kegelapan? Apakah Anda cenderung memilih bertindak dan tidak menyadari tindakan Anda, berbicara dan tidak menyadari kata-kata yang Anda ucapkan? Apakah Anda cenderung memilih mendengarkan dan tidak menyadari apa yang Anda dengar, atau Anda melihat sesuatu dan tidak menyadari apa yang sedang Anda lihat?

Socrates mengatakan, "Hidup yang tidak disertai kesadaran tentang hidup itu sendiri, tidaklah layak dihidupi." Hal itu merupakan kebenaran yang tak perlu dibuktikan lagi.

Tidak Ada Diri di Luar Pikiran

Apa yang mucul dalam pikiran, ketika kita bertanya: apakah diri? Kebanyakan orang mengira, seolah ada entitas lain di luar pikiran, ada pemikir yang berpikir. Sesungguhnya tidak demikian. Mari kita lihat. Pikiran yang bergerak selalu menciptakan dualitas objek dan subjek, dualitas diri yang diamati dan diri yang mengamati, pikiran dan si pemikir. 


Sesungguhnya, si pemikir tidak beda dengan pikirannya, si pengamat tidak beda dengan yang diamatinya. Subjek yang mengamati atau si pengamat hanyalah ciptaan pikiran. Dengan adanya pengamatan total terhadap gerak-gerik batin, maka di sana tidak ada dualitas subjek dan objek.Ketika pikiran berhenti, tidak ada lagi subjek. Karena tidak ada subjek, maka objek yang diamati tidak perlu dinamai objek. Ia cukup disebut realitas apa adanya.

Memahami Rasa Sedih

Saat kesedihan mendera, apa reaksi kita? Kita mencari penyebabnya, menganalisis, menyalahkan atau membenarkan, ingin mengakhiri kesedihan, menolaknya, mengatasinya, dan seterusnya. Kebanyakan dari kita jarang tinggal bersama rasa sedih secara penuh, karena kita mudah berlari untuk mencari penghiburan. Penghiburan apa pun bentuknya, barangkali bisa mengurangi rasa sedih, tetapi tidak sungguh menyembuhkan.

Berbagai reaksi atas kesedihan hanya membuang energi, dan kesedihan tidak berakhir. Ketika sedih, aku mengatakan, ”aku sedih.” Siapakah sesungguhnya si aku yang sedang bersedih? Bukankah si aku tidak berbeda dari rasa sedih itu?